Wednesday, December 2, 2009

SIAPA PENCETUS PERTAMA ISTILAH WAHHABI?

Oleh: Al-Ustadz Jalâl Abŭ Alrŭb
Sumber: http://abusalma.wordpress.com/

Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam. [Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55]. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India.

Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.* Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.**



Catatan :
* W.W. Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim ‘Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa : “There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.” [“Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”] Lihat: W.W. Hunter, “The Indian Musalmans”, cet.1 di London: Trűbner and Co., 1871; Calcuta: Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi: Rupa & Co., 2002 Reprint

** Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ ‘Alî (1828-1868), Syaikh Ahmad ‘Abdullâh (1808-1881), Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan lihat :

Mu’înud-dîn Ahmad Khân, A History if The Fara’idi Movement in Bengal (Karachi: Pakistan Historical Society, 1965).

Barbara Daly Metrcalf, Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900 (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1982), hal. 26-77.

Qiyâmud-dîn Ahmad (Professor Sejarah di Universitas Patna), The Wahhabi Movement in India (Ner Delhi: Manohar, 1994, 2nd edition). Terutama pada bab tujuh “The British Campaigns Againts the Wahhabis on the North-Western Frontier” dan bab kedelapan “State Trials of Wahhabi Leaders, 183-65.”

Muhammad Ja’far, Târikhul ‘Ajîb dan Târikhul ‘Ajîb – History of Port Blair (Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition).


Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî [Lihat: ibid, hal. 70]. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :

“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.

Margoliouth sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”. [D.S. Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108. Artikel karya Margoliouth yang berjudul ‘Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 (New York: E.J. Brill, 1987 Reprint) vol.8 , hal.1087 karya M.T. Houtsma, T.W. Arnold, R. Basset, R. Hartman, A.J. Wensinck, H.A.R. Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal (ed) dan The Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden and London: E.J. Brill and Luzac & Co., 1960), hal. 619 karya H.A.R Gibb, J.H. Kramers dan E. Lêvi-Provençal (ed). Artikel ini juga dicetak ulang dalam :

Reading, UK: Ithaca Press, 1974

Leiden: Brill, 1997

Dan cetakan pertama, Leiden and London: E.J. Bril and Luzac & Co., dan New York: Cornel University Press, 1953.]

Thomas Patrick Hughes menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh… [Thomas Patrick Huges, Dictionary of Islam, hal. 59].

George Rentz mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’… [George Rentz dan AS.J. Arberry, The Wahhabis in Religion in The Middle East: Three Religion in Concord and Conflict, Vol.2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), hal. 270]. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.

[Lihat: Nâshir ibn Ibrâhîm ibn ‘Abdullâh Tuwaim, Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Abd`ul Wahhâb: Hayâtuhu wa Da’watuhu fi`r Ru`yâ al-Istisyrâqiyya: Dirôsah Naqdîyyah (Riyadh: Kementerian Urusan Keislaman, Pusat Penelitian dan Studi Islam, 1423/2003) hal. 86-7. Buku ini juga dapat dilihat secara online di http://islamport.com/d/3/amm/1/100/2213.html] .

Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :

Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.

Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.

Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.

Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah. [Lihat: Qodhî Ahmad ibn Hajar Alu Abŭthâmi (al-Bŭthâmi), Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb : His Salafî Creed and Reformist Movement, hal. 66]. Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).

Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.

Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.

Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.

Jangan Mudah Menuduh Orang Wahabi

Oleh: Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin
Sumber: http://drmaza.com


Ketika saya dihubungi agar mengulas tentang satu gerakan yang suka menuduh orang lain wahhabi, saya pada mulanya malas nak campur. Di kala negara sedang gelut dengan krisis yang berbagai, ada juga puak yang sibuk wahabi-mewahabi orang lain. Apatah lagi, saya pun dah lama tidak berfikir tentang isu tersebut kerana sibuk dengan isu-isu yang lebih bersifat nasional dan sejagat.

Sebenarnnya, di negara kita kini sedang muncul satu golongan yang menyembunyikan identitinya. Mereka ini jika di negara Arab digelar Ahbash. Puak ini berpusat di Lubnan dan mempengaruhi sesetengah pelajar kita di sana juga yang di tempat lain. Perkataan ahbash merujuk kepada pengasas dan pengikut mereka yang berketurunan Habsyi Afrika. Guru mereka ialah Abdullah al-Harari. Seorang yang terkenal suka mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Dia sentiasa mendakwa bahawa hanya dirinya Ahlussunnah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i. Sesiapa yang tidak bersependapat dengannya itu sesat, atau kafir atau wahhabi. Hasilnya berlakulah pembunuhan dan rusuhan. Mereka telah mengkafirkan ulama-ulama terdahulu seperti al-Imam Ibn Taimiyyah, al-Imam Ibn Qayyim, al-Imam al-Zahabi, al-Imam Ibn Kathir, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain. Ulama semasa yang dikafirkan oleh mereka termasuk Dr. Yusuf al-Qaradawi, Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Sayyid Sabiq, Sayyid Qutb, al-Albani, Mufti Lubnan Hasan Khalid lain-lain. Sesiapa yang berminat mereka boleh layari http://bankahbash.blogspot.com untuk mengetahui sikap ektremis golongan ini.

Di Malaysia, mereka mula menyerap dalam sesetengah pihak berkuasa agama di negeri-negeri tertentu. Mereka menganjurkan program-program atas nama Ahlussunnah wal Jamaah. Isi kandungannya adalah menuduh sesiapa yang tidak sebulu dengan mereka sebagai wahhabi. Slogan mereka sama, sesiapa yang memberikan pendapat yang tidak sama dengan mereka maka dia sesat atau wahhabi. Cara kebetulan pula pandangan sesetengah golongan pembaharuan memang ada perbezaan dengan pandangan agamawan tempatan. Namun, itu bukan kesalahan dan baru. Dahulu pun dalam negara ini ada gerakan kaum muda seperti Za’ba, Syed Syeikh al-Hadi, Burhanudin al-Helmi, Abu Bakar al-Baqir dan selain mereka yang memang diiktiraf sumbangan mereka dalam pembaharuan dan kemerdekaan. Walaupun ada tentangan terhadap kaum muda dari kelompok konservertif tradisionalis melayu, namun buku-buku sejarah yang jujur terus mengiktiraf sumbangan kaum muda kepada pendidikan, perjuangan hak wanita, kemajuan pemikiran, pembebasan dari kejumudan dan seumpamanya.

Namun hari ini puak Ahbash yang muncul dan menyelinap masuk dalam masyarakat kita cuba membangkit perkara-perkara perbezaan ini sehingga ke peringkat kafir mengkafir. Kata mereka golongan pembaharuan menimbulkan pecah belah dalam masyarakat. Padahal jika mereka jujur, perpecahan yang sebenar dalam masyarakat melayu sekarang adalah dalam isu-isu politik, bukan isu kenduri arwah, tol orang mati dan joget tarekat yang dipertahankan oleh mereka. Untuk menarik minat masyarakat, mereka menuduh sesiapa sahaja yang memberikan pandangan berbeza itu sebagai wahhabi dan ektremis. Padahal, golongan Ahbash ini menyimpan racun mereka dan menunggu hari untuk dikeluarkan. Tidak hairan jika beberapa pembunuhan di Lubnan dikaitkan dengan mereka dan ramai tokoh yang menganggap mereka mempunyai hubungan dengan CIA. Sebab itu kita melihat pendekatan Ahbash ini ada ala-ala Amerika. Jika Amerika yang mengganas di negara orang, menuduh orang lain pengganas, demikian puak Ahbash ini yang suka mengkafirkan orang lain, tetapi menuduh orang lain pula mengkafirkan dan menumpahkan darah. Maka tidaklah pelik jika guru Ahbash itu digelar al-fattan atau pencetus fitnah.

Di samping, kita juga tidak menafikan, wujudkan segelintir kelompok yang menyandarkan diri kepada salafi kadang-kala ada ciri-ciri agak keras dalam berinteraksi dengan amalan tradisi tempatan atau menimbul beberapa pendapat yang tidak wajar dibesar-besarkan. Saya sendiri kurang bersetuju untuk terlalu bertegas dalam perkara-perkara yang diizinkan syarak untuk kita berbeza pendapat. Namun, kesilapan mereka itu hanya pada pendekatan dan pemilihan keutamaan. Tidak sepatutnya untuk mereka dihukum sesat atau dikafirkan oleh kelompok Ahbash ini.

Namun, jarum Ahbash ini nampaknya ada juga yang terpengaruh lalu menuduh sesiapa sahaja yang berbeza pendapat dengan pandangan mereka sebagai wahhabi. Padahal, jika kita bertanya kepada kebanyakan yang suka melebelkan orang lain sebagai ‘wahabi’; apa itu wahabi?. Mereka pun tak pasti dan berbagai jawapan diberikan. Ada yang katakan wahabi ialah sesiapa yang tidak qunut subuh. Jika kita beritahu dia, mazhab-mazhab yang lain juga tidak qunut subuh. Apakah al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Hanifah juga wahabi? Ada yang kata: wahabi tidak tahlil. Kita beritahu dia tahlil maksudnya La ilah illa Allah, tahmid bermaksud Alhamd li Allah, tasbih bermaksud subhana Allah. Setahu kita mereka ini menyebutnya. Mana mungkin, jika tidak, mereka kafir. Bahkan imam-imam di Arab Saudi yang dituduh wahhabi itu menghafaz al-Quran dengan begitu hebat dan bacaan-bacaan mereka diperdengarkan di sana sini. Adakah mereka kafir?!!. Ada yang kata wahabi adalah mereka yang belajar di Arab Saudi. Ramai yang tidak belajar di Arab Saudi pun ada juga yang menuduh wahabi. Kemudian, kalau wahabi itu sesat, apakah sekarang Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabi sedang didiami dan diimami oleh golongan yang sesat?!!. Ada yang kata wahabi ialah golongan tidak bermazhab. Kita beritahu dia Arab Saudi yang sebagai dituduh wahabi bermazhab Hanbali.

Mungkin yang lebih pandai menyebut; wahabi adalah pengikut Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Dari situ digelar pengikutnya ‘Wahhabi’. Saya katakan saya sendiri dalam pengalaman yang singkat ini ada yang menuduh wahabi, sekalipun saya tidak begitu membaca buku-buku Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Saya hanya menganggapnya salah seorang tokoh-tokoh umat yang ada jasa dan sumbangannya. Dalam masa yang sama ada kekurangan dan kelemahannya. Dia bukan tokoh mazhab fekah yang ulung. Dia sendiri bermazhab Hanbali. Bukan juga jaguh dalam hadis, sehingga al-Albani pernah mengkritiknya dengan agak tegas. Namun, sebagai tokoh, ada sumbangannya yang tersendiri. Dari segi ilmiah, secara peribadi saya tidak dapat banyak manfaat daripadanya. Namun sumbangannya tidak dilupakan. Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh al-Aulawiyyat memuji Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, dengan berkata:

“Bagi al-Imam Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arab perkara akidah adalah menjadi keutamaannya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menanggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik.
(m.s. 263, ctk. Maktabah Wahbah, Mesir)

Juga tokoh ahli fekah terkenal, Dr. Wahhab al-Zuhaili juga memujinya dengan menyebut:

“Sesuatu yang tiada syak padanya, menyedari hakikat yang sebenar, bukan untuk meredhakan sesiapa, berpegang kepada ayat al-Quran yang agung (maksudnya) “Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya (Surah Hud: 85), bahawa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah terbesar untuk islah (pembaikian), membina umat, jihad dan mengembalikan individu muslim kepada berpegang dengan jalan al-salaf al-salih yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab pada kurun yang kedua belas hijrah. Tujuannya untuk mentajdidkan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan berbagai khilaf, kekeliruan, bid'ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ialah pemimpin kebangkitan agama dan pembaikian (islah) yang dinantikan, yang menzahir timbangan akidah yang bersih..”
(Rujukan: Dr Wahbah al-Zuhaili, Risalah Mujaddid al-Din fi Qarn al-Thani ‘Asyar, m.s 57-58).

Bahkan banyak lagi puji-pujian beliau dalam risalah tersebut. Ramai lagi tokoh-tokoh lain yang memuji Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, apakah tokoh-tokoh agama yang begitu ramai itu patut dituduh wahabi?!!!.

Kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i tulisan tokoh-tokoh semasa mazhab al-Imam al-Syafi'i , iaitu al-Syeikh Mustafa Khin, al-Syeikh Mustafa al-Bugha dan ‘Ali al-Syarbaji. Namun apabila saya baca antara apa yang disebut dalam kitab tersebut:

“Daripada bid'ah apa yang dibuat oleh keluarga si mati ialah dengan mengumpulkan orang ramai kepada makanan dengan munasabah yang dinamakan berlalunya empat puluh hari dan seumpamanya. Sekiranya perbelanjaan makanan tersebut dari harta peninggalan (si mati) dan di kalangan waris ada yang belum baligh, maka itu adalah dari perkara lebih haram. Ini kerana ia memakan harta benda anak yatim dan melenyapkannya bukan untuk kepentingan anak yatim tersebut. Terbabit juga dalam melakukan perbuatan haram ini setiap yang memanggil dan memakannya”
(1/263, Damsyik: Dar al-Qalam)

Apakah semua penulis itu wahabi?!!.Jika kita tengok kitab-kitab melayu jawi kita dapati perkara yang sama. Kata Syeikh Daud al-Fatani (semoga Allah merahmatinya) dalam Bughyah al-Talab:

“(dan makruh) lagi bid'ah bagi orang yang kematian membuat makanan menserukan segala manusia atas memakan dia sama ada dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang diadatkan kebanyakan manusia (dan demikian lagi) makruh lagi bid'ah bagi segala yang diserukan dia memperkenankan seruannya” (2/34).

Demikian juga kenyataan dibuat oleh al-Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam Sabil al-Muhtadin. Begitu juga al-Marbawi dalam Bahr al-Mazi menyebut:

“Maka bid'ah yang tidak elok” (7/130).

Apakah mereka semua juga wahabi?!!.

Apabila ada yang memberitahu amalan Nisfu Syaaban seperti yang dibuat oleh masyarakat kita bukan dari tunjuk ajar Nabi s.a.w. Mereka kata: “dia wahabi”. Kita kata ini bukan daripada tulisan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, ini fatwa Dr Yusuf al-Qaradawi apabila ditanya mengenai nisfu Syaaban, beliau menjawab:

“Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi s.a.w. dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid untuk menghidupkan malam nisfu Syaaban, membaca do`a tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam. Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua raka`at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Ianya satu do`a yang panjang, yang menyanggahi nusus (al-Quran dan Sunnah) juga bercanggahan dan bertentang maknanya...perhimpunan (malam nisfu Syaaban) seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bid`ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas. Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bid`ah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bid`ah, dan setiap yang bid`ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka.
( Dr. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu`asarah, 1/382-383, Beirut: Dar Uli al-Nuha).

Apakah beliau juga wahabi?!!

Al-Imam al-Nawawi (meninggal 676 H) adalah tokoh agung dalam mazhab al-Syafi'i. Pada zamannya, beliau membantah mengiringi jenazah dengan mengangkat suara membaca al-Quran. Beliau berkata:

“Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-salaf al-salih r.a adalah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah yang cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya. Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad r.a. pernah berkata –maknanya-: “Berpegang dengan jalan petunjuk, jangan engkau tewas disebabkan sedikit yang melaluinya. Jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terpengaruh dengan banyaknya golongan yang rosak”. Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damsyik, iaitu melanjutkan bacaan al-Quran dan bacaan yang lain ke atas jenazah dan bercakap perkara yang tiada kaitan, ini adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan Adab al-Qiraah keburukannya, besar keharamannya, dan fasiknya sesiapa yang mampu membantahnya tetapi tidak membantahnya”.
(Al-Nawawi, Al-Azkar, m.s. 225-226, Damsyik: Maktabah al-Ghazali).

Saya percaya jika al-Imam al-Nawawi di zaman kini dan buat kenyataan ini, golongan yang taksub pegangan tempatan akan menuduhnya juga wahabi. Apatah lagi jika dia mereka mambaca kenyataan al-Imam al-Nawawi ini menyetujui tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i yang membantah jamuan atau kenduri sempena kematian. Katanya:

“adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi s.a.w sedikit pun. Ia adalah bid’ah yang tidak disukai”
(Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Mahazzab 5/320 Beirut: Dar al-Fikr).

Tentu jika mereka masih hidup akan dituduh wahabi!

Bahkan jika al-Imam al-Syafi’i masih hidup pun mungkin dia dituduh wahhabi. Apa tidaknya dalam kitabnya al-Umm disebut:

“Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selepas selesai solat. Hendaklah mereka mensenyapkan zikir, kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya (bacaan-bacaan zikir-pen), maka ketika itu dijelaskan zikir. Sehingga apabila didapati telah dipelajari daripadanya. Maka selepas itu hendaklah dia perlahankan"
(al-Syafi'i, Mausu‘at al-Imam al-Syafi'i: Al-Umm, 1/353 Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi).

Tidakkah itu berbeza dengan amalan orang melayu. Ada kata golongan wahhabi tidak mewajibkan terikat dengan sesuatu mazhab. Saya kata kalau begitu haramkanlah buku Dr. Yusuf al-Qaradawi, Dr Wahbah al-Zuhaili, Dr Abd al-Karim Zaidan dan berbagai tokoh ulama antarabangsa yang lain dari disebarkan di Malaysia ini. Sebab mereka ini yang tidak mewajibkan terikat dengan satu-satu mazhab. Lihat apa kata Dr Yusuf al-Qaradawi:

“Perkara yang penting untuk anda mengetahuinya bahawa hukum orang awam mengikut salah seorang imam-imam mazhab ialah harus dengan syarat-syaratnya. Ia bukan sesuatu yang wajib seperti yang dikatakan oleh golongan mutakhir. Ini kerana tiada kewajipan kecuali apa yang diwajibkan oleh al-Kitab dan al-Sunnah. Maka al-Quran dan al-Sunnah tidak mewajibkan seseorang terikat dengan mazhab. Maka tidak menjadi halangan untuk seseorang muslim bebas dari terikat dengan mana-mana mazhab. Dia boleh bertanya berkaitan agamanya kepada sesiapa sahaja di kalangan ulama. Tanpa perlu terikat dengan seseorang ilmuan sahaja tanpa bertanya orang lain. Inilah jalan para sahabah dan sesiapa yang mengikuti mereka dengan cara yang baik pada zaman sebaik-baik kurun. Allah telah selamatkan mereka dari taklid yang dicerca ini. Sebaik-baik manusia untuk bebas dari terikat dengan mazhab ialah sesiapa yang baru menganut Islam. Maka tiada kepentingan mewajibkannya apa yang Allah ta’ala tidak wajibkan. Dia boleh bertanya sesiapa sahaja dari kalangan ulama yang dia mahu. Wajib ditulis untuk mereka buku-buku fekah yang memudahkan tanpa terikat dengan mazhab tertentu”.
(Al-Qaradawi: Dr Yusuf, Kaif Nata’amal Ma’ al-Turath, m.s. 83-84, Kaherah: Maktab Wahbah)

Banyak lagi contoh-contoh lain jika hendak disebut. Maka fahamlah bahawa tuduhan wahabi kepada seseorang di negara kita ini kebanyakan adalah fitnah. Sebagai jawapan kepada persoalan yang tidak terjawab, maka diputarkan isu ke arah yang lain. Ia adalah lambang akhlak dan perilaku buruk pembuatnya. Memburukkan orang lain tanpa bukti dan ilmu. Kesemua mereka ini akan didakwa di akhirat kerana memutar belitkan fakta tanpa rasa takut kepada ALLAH. Tidak pernahkah mereka membaca firman ALLAH dalam Surah al-Hujurat ayat 11-12: (maksudnya)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah ia beriman. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.

Adalah malang jika medan perbahasan ilmiah dijadikan medan fitnah memfitnah. Apatah lagi jika yang terlibat itu golongan agama. Kita sepatutnya hanya berada dalam sempadan fakta dan angka sahaja. Jangan terbabas ke peringkat tuduh menuduh secara tidak berakhlak. Ramai pendakwah yang menjadi mangsa akhlak buruk ini. Kita juga berdukacita dan bersimpati. Apatah lagi jika ahli fitnah memakai nama pihak berkuasa agama. Namun saya katakan kepada para pendakwah yang difitnah; bersabarlah. Telah pun difitnah sebelum ini para rasul yang mulia, sehingga Nabi Muhammad s.a.w dituduh ahli sihir dan gila. Al-Imam al-Syafi'i r.h pernah dituduh sebagai pendokong Syiah di zaman sehingga dia dihukum. Al-Imam Al-Bukhari r.h pernah tuduh sebagai bersefahaman dengan Mu’tazilah mengenai al-Quran, sehingga dia terpaksa keluar dari kampung halamannya. Demikian sejarah dan sirah para ulama kesemuanya tidak sunyi dari mainan golongan yang hasad dan khianat. Demikian tabiat dakwah ini yang sentiasa menuntut keikhlasan dan pengorbanan.

Wahai mereka yang suka menuduh orang lain atas sentimen tanpa bukti. Berhentilah, banyak kerja lain yang patut kita buat. Jangan jumud. Sekarang dunia moden, banyak pengetahuan boleh dicari hanya dengan beberapa clik di hadapan internet. Jika kita tidak larat fikir, jangan halang orang lain mencari maklumat dan berfikir. Tunjukkan imej keistimewaan Islam itu dengan mengizin keperbagaian pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni selagi tiada penipuan dan pengkhianatan. Dunia fakta hanya dimasuki oleh manusia yang cintakan ilmu. Bukan yang suka mengkafirkan orang tanpa sebab atau menuduh orang wahabi hanya kerana tidak berkenan di hati.

Wahabi: Istilah Yang Ditakuti

Antara ketakutan dalam diri manusia adalah apabila dia diberikan suatu gelaran yang membawa maksud yang buruk dalam masyarakat, ‘Wahabi’ merupakan contoh gelaran yang ditakuti apabila seseorang itu berada di dalam lapangan agama. Masyarakat Islam di Malaysia secara umumnya memahami istilah Wahabi ini merujuk kepada segelintir golongan umat Islam yang mempunyai tafsiran dan pemahaman yang berbeza mengenai soal ibadat. Contohnya, apabila seseorang itu tidak membaca doa Qunut ketika solat subuh, maka dia akan dituduh sebagai penganut fahaman Wahabi. Begitu juga jika seseorang itu menolak mengadakan majlis kenduri arwah, maka dia juga akan dituduh sebagai Wahabi. Secara ringkasnya, apa sahaja pandangan atau pendapat yang melawan arus pemikiran perdana umat islam di Malaysia, maka berkemungkinan besar si pembawa idea atau pendapat itu akan digelarkan sebagai Wahabi. Persepsi ini merupakan satu stigma pemikiran yang yang telah lama mendominasi pemikiran tradisionalis umat Islam di Malaysia. Penulisan ringkas ini tidak menjuruskan benar atau salah fahaman ini, namun sekadar santapan ringkas agar ilmu dan pemahaman dapat diluaskan.

Gelaran Wahabi sebenarnya disandarkan kepada seorang tokoh agama yang bernama Muhammad Ibn Abdul Wahab. Di zamannya, Sheikh Muhammad Ibn Abdul Wahab merupakan seorang yang tegas dalam membersihkan akidah umat islam yang mana ketika itu dicemari dengan pelbagai unsur-unsur inovasi dalam agama seperti pemujaan kubur alim ulama’ dan pembinaan di atas kuburan. Kebanyakan tanggapan mendakwa fahaman ini mendukung idea dan perjuangan Sheikh Muhammad Ibn Abdul Wahab dalam membersihkan akidah umat Islam. Sewajarnya, jika gelaran wahabi ingin disandarkan kepada Sheikh ini, ia sepatutnya menggunakan gelaran ‘Muhammadiyyah’. Namun musuh-musuh Sheikh Muhammad Ibn Abdul Wahab sengaja menggunakan istilah Wahabi untuk mengaitkan diri Sheikh itu dengan fahaman Khawarij yang mendakwa orang Islam sebagai murtad jika melakukan dosa. Namun hal ini telah dinafikan olehnya dalam surat yang ditulis kepada penduduk Qassim, ‘saya tidak pandang mana-mana orang Islam sebagai kafir kerana dosa mereka, dan saya juga tidak mengeluarkannya dari agama Islam.’ (ruj: Sheikh Muhammad Ibn Abdul Wahab His Life & The Essence of His Call, Prof Sulaiman Ibn Abdurrahman Al-Huqaily, edisi terjemahan oleh Hamidun Abdullah untuk Institute As-Sunnah, Perlis) Sebenarnya, terdapat banyak tuduhan dan fitnah yang dilemparkan kepada tokoh ini sehingga menjadikan gelaran Wahabi sebagai satu istilah yang ditakuti, namun kebanyakkan tuduhan itu telah pun dijawab dengan ilmiah. Walaupun berlaku banyak fitnah terhadap dirinya, namun sumbangan besarnya dalam bidang akidah tetap dihargai oleh ramai ulama’ dunia seperti Dr Yusuf Al-Qardhawi, Sayyid Muhammad Rashid Ridha, Sheikh Ali Tantawi dan lain-lain ulama’ besar dunia. Memetik kata-kata Al-Qardhawi ‘Prioritas dalam da'wah Imam Muhammad bin Abd al-Wahhab di Jazirah Arabia ialah pada bidang aqidah, untuk menjaga dan melindungi tauhid dari berbagai bentuk kemusyrikan dan khurafat yang telah mencemari sumbernya dan membuat keruh kejernihannya. Dia menulis berbagai buku dan risalah, serta menyebarkan dan mempraktekkannya dalam rangka menghancurkan berbagai fenomena kemusyrikan.’ (ruj: Fiqh Aulawiyyat, Dr Yusuf Al-Qardhawi)

Realiti yang berlaku di dunia Islam, kebanyakkan pemikiran tradisionalis menganggap fahaman Wahabi ini sebagai unsur yang menyimpang di dalam Islam. Dukacita juga sebahagian dari mereka meletakkan fahaman ini sebagai terkeluar daripada Ahlul Sunnah Wal-Jamaah (ASWJ). Majoriti yang menjadi pemikir seperti ini hanyalah merupakan mangsa kepada keadaan yang telah membutakan mereka kepada kefahaman yang rigid. Mereka menganggap, apa sahaja yang bercanggah dengan nilai mazhab Syafie mengikut kefahaman mereka, nilai itu akan dianggap sebagai tertolak walaupun ia masih berlegar dalam ruang ASWJ. Oleh itu, sebarang usaha tajdid untuk memberikan satu sudut pandang yang berbeza terhadap Islam, maka kadangkala ia akan ditolak secara mentah dengan beralasan pandangan itu sebagai pegangan fahaman Wahabi. Al-Qardhawi mengulas mengenai isu takut kepada usaha tajdid, katanya ‘Inilah satu titik lemah dalam pergerakan Islam. Ia takut dari ijtihad, tidak senang pada pembaharuan (tajdid), tidak cenderung pada keterbukaan dan tidak menyenangi perkembangan dan perubahan.’ (ruj: Di Mana Punca Kelemahan Umat Islam Masa kini, Prof Dr Yusuf Al-Qardhawi)

Di Malaysia, golongan yang mendukung fahaman Wahabi ini lebih gemar jika ia digelarkan sebagai Salafi, Pro-tajdid atau pendukung Sunnah. Mereka ingin membawa satu kaca mata yang lebih besar terhadap fahaman ini dengan menekankan pemahaman Islam menurut manhaj para Salaf. Al-Salaf memiliki erti orang-orang yang mendahului dari bapak-bapakmu dan kaum kerabatmu yang mereka di atasmu dalam hal usia dan keutamaan..... Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka adalah salaful ummah (pendahulu ummat), dan siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka juga salaful ummah. Serta siapa saja yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka mereka berada si atas manhaj as-Salaf ash-Sholih. (ruj: Studi Ringkas Tentang Manhaj Salaf, Sheikh Abdul Qadir Al-Arna’uth) Manhaj ini menurut mereka tidak membataskan pemikiran dengan lingkungan mazhab semata, tetapi keluasan pemikiran berpandungan Quran dan As-Sunnah yang soheh. Oleh sebab itu, masyarakat Islam tradisionalis menganggap mereka sebagai bermasalah apabila ada ibadah atau adat yang ditentang oleh pendukung fahaman ini kerana menurut mereka tidak menurut syariat Islam yang sebenar. Hal ini telah menyebabkan berlakulah pertempuran yang berlarutan sekian lama yang mungkin dikenali di Malaysia sebagai ‘kaum muda vs kaum tua’.

Namun begitu, fahaman Salafi di Malaysia masih boleh dibahagikan kepada tiga kumpulan menurut pengamatan Ustaz Zaharuddin. Kumpulan pertama ialah yang ekstrem lagi keras dan tegas, kedua pula yang Sederhana (moderate), manakala Ketiga iaitu yang lebih lembut dan toleran (Mild). (ruj: Ulasan, Komentar & Cadangan Berkenaan Kursus Latihan ESQ 165, Ustaz Zaharuddin Abdul Rahman) Mungkin pendekatan kumpulan pertama iaitu yang bersifat sedikit keras dan ekstrem telah menimbulkan rasa kurang senang dan terkejut masyarakat Islam di Malaysia yang mana rata-rata pemahamannya mengenai ilmu Islam hanyalah pada peringkat asas. Pendekatan bagi kumpulan dua dan tiga kelihatan agak berjaya apabila dapat mempengaruhi sebahagian besar golongan pelajar di universiti dan pekerja profesional. Perkembangan aliran Salaf ini mendapat tentangan agak hebat daripada golongan yang memegang kuasa agama apabila terdapat beberapa tokoh yang didakwa mendukung fahaman Wahabi dilarang memberikan ceramah dibeberapa buah negeri. Terdapat juga pelbagai forum yang dianjurkan oleh badan-badan tertentu yang mana bertujuan menerangkan tentang bahaya pemikiran Wahabi yang semakin menular di dalam Malaysia.

Isu wahabi sebenarnya merupakan masalah persepsi umat Islam yang mana telah digambarkan dengan pelbagai fakta yang dangkal dan tidak benar mengenai fahaman ini. Umat islam di Malaysia perlu diberikan ruang kepada pemikiran yang lebih luas terhadap Islam. Jika suatu pemikiran itu dangkal dan tidak benar, secara automatis pemikiran itu akan berkubur dan tidak mendapat tempat. Masyarakat Islam semakin bijak dalam penilaian, berikan mereka ruang untuk menilai setiap hujah dan fakta mengenai agamanya. Perkara yang terpenting dalam hal ini, kita sewajarnya tidak sesekali mengeluarkan mereka daripada keluarga Islam ASWJ. ‘Oleh itu berbalik kepada isu Wahhabi, pendirian yang jelas perlu diambil, Wahhabiyyah sekali-kali bukan golongan yang terkeluar daripada Ahli Sunnah. Mengeluarkan mereka daripada Ahli Sunah bermakna kita juga terjebak ke lembah fanatik yang sama seperti sebahagian mereka.....’ (ruj: Isu Wahabiyyah: Menangani Secara Realiti, Jurnal Penyelidikan Islam bil 19 2006M, Mohd Aizam bin Mas’od, JAKIM)

Oleh: Ajim
http://www.ajimtajdid.blogspot.com

al-Azhar Mengharamkan Kitab Yang menyerang Muhammad bin Abdul Wahhab

Universiti al-Azhar al-Syarif pada tahun 2005 telah mengharamkan lima buah kitab yang diterbitkan oleh Tarikat 'Azmiyah yang menghentam Muhammad bin Abdul Wahab dan al-Imam Muhammad bin Sa'ud seperti berita yang dikeluarkan oleh majalah al-Watan bilangan 1672, bertarikh 19 Rabi’ul awwal 1426 H bersamaan 28 April 2005. Di bawah ini saya terjemahkan isi kandungan berita yang termuat di dalam majalah tersebut yang bertajuk "Al-Azhar melarang 5 Kitab yang menyerang al-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab":

"Al-Azhar mengeluarkan keputusan melarang disebarkan lima kitab yang diterbitkan oleh Tarikat al-'Azmiyah –salah satu tarikat Sufi di Mesir- yang mana buku-buku tersebut menyerang al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab dan al-Imam Muhammad bin Sa'ud kerana ianya mengandungi fitnah-fitnah dan memecah belahkan barisan umat Islam.

Berkata Mudir Syu'un Lajnah Majma' al-Buhuth al-Islami al-Azhar al-Syarif, al-Syeikh Mahir al-Haddad kepada Majalah al-Watan : "Sesungguhnya al-Majma' di dalam Ijtimaknya semalam yang diketuai oleh Syeikh al-Azhar Dr. Muhammad Sayyid Tantawi sepakat atas laporan kajian terhadap lima kitab tersebut yang disediakan oleh ahli al-Majma' yang menunjukkan lima kitab tersebut tidak benar. Semua 5 kitab ini disebarkan di mana di dalamnya mengandungi asas fitnah dan perpecahan. Kitab-kitab ini dikeluarkan oleh Lajnah al-Buhuth al-Dirasaat bagi Tarikat al-'Azmiyyah sebagai satu bahagian daripada silsilah dari kitab-kitab yang lain yang membicarakan tentang al-Futuhaat al-'Azmiyyah.

Majalah al-Watan dimaklumkan bahawa lima kitab tersebut diberikan oleh Kementerian Keselamat (The State Security Service) Mesir kepada al-Azhar untuk menunggu keputusan Fatwa dari al-Azhar tentangnya yang mana kitab tersebut telah dicetak oleh Tarikat Sufiyah tersebut sekitar tiga ribu naskah sebagai hadiah yang diberikan bersama majalah Tarikat tersebut."


-------------
(Sumber berita : http://www.alwatan.com.sa/daily/2005-04-28/first_page/first_page03.htm )

Dr. Wahbah al-Zuhaili



Dr Wahbah al-Zuhaili menyebut: “Sesuatu yang tiada syak padanya, menyedari hakikat yang sebenar, bukan untuk meredhakan sesiapa, berpegang kepada ayat al-Quran yang agung (maksudnya):

“Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya (Surah Hud: 85), bahawa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah terbesar untuk islah (pembaikian), membina umat, jihad dan mengembalikan individu muslim kepada berpegang dengan jalan salafus soleh yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab pada kurun yang kedua belas hijrah.Tujuannya untuk mentajdidkan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan berbagai khilaf, kekeliruan, bid’ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ialah pemimpin kebangkitan agama dan pembaikian (islah) yang dinantikan, yang menzahir timbangan akidah yang bersih..” (Rujukan: Dr Wahbah al-Zuhaili, Risalah Mujaddid al-Din fi Qarn al-Thani ‘Asyar, m.s 57-58).

Dr. Yusuf al-Qaradhawi


Dr Yusuf al-Qaradawi menyebut di dalam Fiqh al-Aulawiyyat:

"Bagi al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di Semenanjung Arab perkara akidah adalah menjadi keutamaannya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menanggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik." (m.s. 263, Mesir: Maktabah Wahbah).


Di tempat yang lain al-Qaradhawi menyebut:

"...Sepatutnya (kita mengambil) perhatian terhadap gerakan-gerakan yang membawa Islah dan Tajdid di dalam sejarah Islam. Demikian juga dengan tokoh-tokoh yang membawa tajdid yang diutuskan oleh ALLAH dari masa ke semasa yang tugasnya mengembalikan ummat kepada agama mereka yang benar, biar apapun warna mereka dan budaya mereka. Di kalangan mereka (yang membawa islah dan tajdid itu) terdiri daripada Khulafa' seperti Umar bin Abdul Aziz, atau dari kalangan sultan dan pemimpin seperti Nur al-Dien, Solah al-Dien, atau dikalangan para fuqaha' seperti al-Syafie (Imam al-Syafie), al-Ghazali, Ibn Taimiyyah dan (Muhammad) bin Abdul Wahab..." (Thaqafah al-Da'iyyah. Cet. Pertama Muassasah al-Risalah. M.s. 107)

"Bagi al-Imam Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arab perkara akidah adalah menjadi keutamaannya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menanggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik." (Thaqafah al-Da'iyyah. Cet. Pertama Muassasah al-Risalah. m.s. 263, ctk. Maktabah Wahbah, Mesir)

"Sejarah mencatitkan dari kalangan Mujaddid Jazirah Arab, penyeru kepada dakwah Salafi yang keluar dari madrasah al-Hambaliah (bermazhab Hambali) al-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1206 H bersamaan 1792 M) yang tertegak dari asas dakwahnya Daulah Sa'udiah" (al-Sohwah al-Islamiyah.. cetakan Dar al-Sohwah. m.s. 32)

‘Abd Allah bin ‘Abd al-Muhsin al-Turki

al-Syeikh 'Abd Allah bin 'Abd al-Muhsin al-Turki di dalam tulisannya: Mujmal I’tikad Aimmah al-Salaf memuji akidah dan perjuangan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, antaranya beliau menyebut:

“Berterusanlah al-Syeikh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab menyeru kepada akidah yang bersih dan bersinar. Dengan tauhid, beliau menentang syirik, dengan ilmu beliau menentang khurafat” (m.s. 105, Beirut: Muasasah al-Risalah).

al-Syeikh 'Abd Allah bin 'Abd al-Muhsin al-Turki ialah Setiausaha Agung, Muslim World League dalam International Conference on Jurisprudence of Minorities in the Light of Maqasid al-Shariah.